Tuesday, December 31, 2002

FILM BIRU

oh air oh ani
came on
on air
onani ...
FILM BIRU

oh air oh ani
came on air on ani
MENGAPA KAU MENGAPA

mengapa tak kau biarkan
laut di mataku ruah
ke dalam gelas yang ditoreh
burung-burung rumi
terbakar

mengapa tak kau biarkan
kabut di alisku pecah
digerindam pucuk salju meleleh
ke palung-palung bumi
terdampar

batam, 311202
ramon domora

Monday, December 30, 2002

RETUR CINTA SEKUJUR CATUR

: laila, elma, ayu, tammi, riska, lainnya


bukan pamrih
bila kau ucap lagi cintamu
yang dulu pernah hamil tua
meregang, memerih ketuban
melahirkan kanak-kanak pion
yang kau elu menjaga raja kasihmu kelak

tapi hitam, tapi putih
kan tiba juga waktu
akhirnya terbaca: kau tak bahagia, ternyata
mengerang, di belakang,
setiap kali beri sayang
sudah, jatuhkan saja:
cumbui aku sehijau melon
atau pekikkan itu: skak!

barangkali hanya dalih
(apalagi yang lebih sembilu?)
sebab kau tak berhenti bertanya: mengapa
adakah yang tak sia-sia sesungguhnya
apakah setia
mengukur jejak kuda hutan
atau membangun benteng dari papan
pada tiap sekon
tak berjarak?

angin memang telah lerai, menyerpih
tapi burung-burung petang masih saja
menorehkan biru
seperti hujan akan selalu ada
mengilhami lumut dalam lumat ciuman
paralon
tua
tak retak

tak

batam, 02
ramon domora
NUDES
: Nota untuk Desember


tidurlah
rebahkan alismu yang cermin
sebab di sana peri-peri menyerlah
dan dosa pun tak ingin

tebing hilang curam
puing dulang manikam
bila kau terpejam

gagak membuang dendam
malam kian dalam
bila kau terpejam

tidurlah
dengan mimpi yang sangat kau sayangi:
tikar pandan di ladang tebu
setelah film-film biru
''apakah semalam aku mendengkur, honey?''
aku tak mengaku
pagi pun begitu
entahlah. atau dusta
atau pura-pura mengembunkan bahagia
yang pasti ia tampak tak rela
bulan semalam menidurimu

tidurlah, rebahlah, mendengkurlah ...
hingga kau terjaga
aku kan tetap menjaga rahasia
kelam

kelamin


batam, 311202
ramon domora

SEKARAT RINDU, SEKERAT KAU


biarlah kini kukepayangi dulu
derit engsel yang luruh
di ujung sajadah itu
mungkin beban paling berat adalah rindu
perhentian masa kanak
ketika kau sapa gemuruh siak
antara cecak
juga daun-daun pintu

biarkanlah kucumbui dulu
gurindam yang mengeras
di pori tingkap itu
kerana entah pabila lagi
kuhirup angin yang khatam
di jala nelayan ini
ketika rahasia tersimpan
mengembarai mimpi
ke semua jauh
melempar sauh

biar, biarkanlah riuh kenangan menuba
melukai setiap igauku

karat tak karat
karat

batam, 02
ramon domora


TERATAI
: bagi penakluk teguh


sekali pandang
tangkaimu jadi sepotong petang

tersangkut rindu yang lusuh
sungguh

pada lanskap merah disalib senja
kesabaran waktu terbakar
kolam hitam saga

tempat unggas-unggas berkaca
membincang cinta yang mekar
antara mitos tanda jasa dan sia-sia

sekali mengapung
padamu jua sajakku relung:

diri yang dibesarkan lumpur
adalah persinggahan ikan-ikan ketam

dalam salam

dan pelipur

batam, 02
ramon domora
TADARUS MERAH
: imam samudera


ngalirlah tadarusku, selalu
bagai karma hujan di mataMu:

dari laut pulang ke laut
kabut

runtuhkan rumah-rumah
pasir

yang mereka bangun sepanjang tamasya
pesisir

hanyutkan aku hanyutkan
sebagai musa

seperti pernah engkau pertemukan
dengan bunda yang duka

fir'aun, fir'aun
aku kan jilati amis darah


batam, 2 des 02
ramon domora


Untuk Tak Mengatakan Setia
: dia yang begitu tiba-tiba


mengapa matamu selalu berdengung
kuat dalam lampu pucat itu
ketika rinduku berdesakan
bersama sayap-sayap laron terbakar
jatuh ke krah baju

harum lehermukah yang seperti hangus
seperti gentar

ah, aku masih pantas berkabung
rasanya

kubuka horden
hujan juga masih di sana
menghapus jejak
segalanya
menghapus esok
dan kau tiada

selebihnya adalah genangan angin
gerangan lain

menggali parit-parit air
mata
sebagai tempat terakhir
bunga-bunga

''abang, apakah nanti
aku kan menjelma bintang?''
''ya, ya. dan kau terbanting ke bumi
kita bercinta di loteng ...''


batam, 03 des 02
Sebelum Aku Membunuhmu, Ibu


-satu-

ibu
kukirim surat ini pada segala ababil
di langit yang penuh humus
sungguh, aku hanya tak mau
daun-daun rindu ini hangus
sebagai tumbal
sebelum kau baca tuba batu
bermekaran di hatiku


-dua-

telah kuketam waktu sepanjang jejak
sepanjang air matamu, ibu:
memanggul doamu kembali
aku kini berdiri di beranda
penuh genangan bangkai
antara masa silam berderai
dan peperangan hari ini
yang mesti dilerai

kelopak musim gugur menggamit igauku
tentang semayam musik masa depan
kusematkan ajal yang mematung
pada puncak karang
agar segera dilamun badai
dan pecah terserak
ke segala pantai
mengapa Rabi'ah Adawiyah ingin menutup neraka
dengan tubuhnya
mengapa seseorang telah menutup usia
saat cinta bergetar di seluruh asma

bimbang jam, wahai, merah nafasmu
telah melarutkan persinggahan
sementara cuaca yang gaduh
kian menuntunku menghunus perlawanan

sujudku berdarah
ditikam tangismu, ibu
yang tak pernah basah


-tiga-

aku berkeras untuk tak berdusta
dengan sejarahku sendiri, ibu
yang aus dan diselubungi kabut
pernah rahangku patah menyebut namamu
sedang igaku berderak
digulung ular Sakati Muna

aku tak berdusta
untuk mencintaimu begitu rupa
walau hutan, sungai, segalanya
telah menyeret bangkaimu yang pengap
agar senantiasa kudekap
aku benci berdusta
dari nista pada kusta di tubuhmu, ibu
sepasang dadamu yang picak
tak boleh kubayangkan
sebagai buah ranum
bergelayut di tali kutang berenda
lemakmu hangus mendengus darahku
yang telah lama tumpah di kuala
sedang para kelenjar di selangkanganmu
terus saja mencucuk ari-ariku
yang tertanam sebagai jadah

tapi bukankah pantang seorang lelaki berdusta?


dengan perih yang masih tersisa
aku menakik dadamu
menampung susu yang tak lagi meleleh
sementara jejak darah di lingkar putingmu
telah kusirami garam
sebelum anjing dan ular dan lipan
memburumu dengan bisa terjulur

karena bagi mereka
ratapmulah ibu dari segala

-empat-

ibu
balaslah suratku
jemputlah letihku
sayatlah dagingku
lemparkan buat iblis di kubur-kubur:

sebelum aku lebih dulu membunuhmu
sambil menenggak anggur!

2002